my departemen
IPB Badge
my fakultas
IPB Badge
waktu adalah pengabdian
February 2015
S M T W T F S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Bina desa adalah sebuah organisasi structural yang berada di bawah naungan BEM KM IPB. Organisasi ini bergerak pada bidang social yaitu dengan mengembangkan kemampuan masyarakat dalam mengolah hasil produksi pertanian pasca panen. Bina desa berfokus pada satu wilayah yang berada di lingkar kampus yaitu desa Ciaruten Ilir. Desa Ciaruten Ilir merupakan Desa yang komoditas produk pertanian utamanya adalah bayam. Harga satu ikat bayam yang dijual oleh para penduduk Desa Ciaruten Ilir ini dibilang sangat murah yaitu Rp 150,00/ ikat. Bina Desa sadar akan pentingnya pengolahan pasca panen untuk menjadi fasilitator peningkatkan pendapatan penduduk yang mata pencahariannya sebagian besar merupakan petani bayam. Usaha memfasilitasi para petani bayam ini adalah adanya departemen Pengembangan Usaha Desa(PUD) yang bergerak mendampingi masyarakat dalam pembuatan kripik bayam. Selain adanya pembuatan kripik bayam, Pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh Bina Desa yaitu adanya pendampingan masyarakat yang ranahnya mencakup pendampingan anak-anak, remaja dan para anggota kelompok tani desa Ciaruten Ilir oleh departemen Pendampingan masyarakat(PENMAS). Penyebaran informasi sewcara meluas atas adanya kegiatan social ini juga gencar dilakukan Bina Desa ini melalui departemen Komunikasi dan informasi (KOMINFO). Organisasi ini juga mengadvokasi kegiatan social ini ke beberapa stake holder dan instansi lainnya melaui departemen Public Relation and Fund Rising(PRF). Adanya beberapa departemen dalam Bina Desa ini menjadi penting adanya departemen yang bias menyatukan keakraban antar departemen untuk menghindari adanya departemenisasi, tugas tersebut merupakan ranah dari departemen Pengembangan Sumber Daya Anggota(PSDA).<SOOOO BUAT KAMU YANG MERASA ANAK KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT SO BERKONTRIBUSILAH UNTUK MEMAJUKAN DESA OK^^/
by: rizka amalia

Sebilah pedang lebih baik menghunusku dan sketika menusuk jantungquw hingga sketika itu aku mati…dari pada verbal yg sombong menghancurhan batin n mematikanquw perlahan…

Tiap orang bisa lemparkan opini pdquw…tp dg bgtu caranya untuk aku menghancurkan opini mreka…bukankah mreka tau apa yg akan terjadi stlh opini mreka terhancurkan???

Ok q tak akan menghancurkan opini mreka,q bertahan tp….lambat laun opininya n verbal rekomendasinya muncul…
Ya…aku mengIYAkan…puasssskah??…stelah apa yg aku lakukan…ya aku yg mlakukanx,sepihak…ya spihak d malam it dan ktk hr hujan…,ya…q yg bersalah…kenikmataan itupun spihak sepertinya…ya q yg bersalah…knikmatan adalah awal sakit,blh jd sktquw adalah knikmatan disisi lain…

Membalik adat,adat trbalik,sombong jika aku mlakukannya…aku tak berpijak d surga lg jk q menyakiti orang2 yg mengenalquw sblm aku lahir…ato kau kah yg sombong atas keegoisanmu n ksombonganmu atas smua milik hartamu,pintarmu,agamamu,…

Q berfikir…bertahan itu sakit…verbal tlh membuka fikirquw…sakitquw berpijak pada ulu hatiquw…3 pil sebesar itupun tak mampu mengobati jk hunusan pedang tak sgera menerkamquw…

Sakitquw nikmatquw,nikmatquw sakitquw…
Baru tersadar pada 2 perkataan yg trlontar dr 2 orng berbeda yg msh terikat darah…

Tinggi menggununung dosa2 kami,bertambah tinggi semakin hari,berjuta kesalahan berlapis kesombongan,slalu saja datang menghapiri,langkah yang rapuh,jiwa yang lemah,segala salah adalah milik kita,
segala puji hanya bagiMU,lautan ampunan kasih sayangMU,Engkau yang pemurah,Engkau yang pemaaf,hanya padaMU hati ini berharap…
Irhamna ya Allah ya rohman ya rohim….
Kasihanilah kami,
ampunilah kami,
selamatkanlah kami….
<by opic>

jika dalam hati penuh dengan cahaya Nya maka menangislah ketika mengingat dosa-dosa yang telah kita perbuat……

sebuah kata akan mengalir indah jika hatimu menangis,

sebuah cercaan akan terasa menyedihkan jika suara hati menentang semuanya,

sebuah kata mempunyai banyak makna,

sebuah kata merupakan saksi bisu dari makna-makna yang ada

sebuah kata gelombang hati yang nampak ke permukaan dunia,

sebuah kata terkait dengan semuanya,

sebuah kata hanyalah diksi dari retoka dunia,

sebuah kata berada pada berbagai makna kata,

sebuah kata adalah kaya….

oleh: Rizka amalia, Dosen: Dr.Ir Ekawati Sri Wahyuni, MS dan Ir. Murdianto, MSi, Asistant: Dyah Ita Mardiyaningsih SP. Msi

ABSTRACT

Many kinds of groups are build in everyday. Each of them have different goals. A group always have the same ultimate goal in accordance with the agreement and wishes the members of the group. When a group formulate goals, then there was a group discussion process. The process of this discussion require verbal communication. Conduct of group members who have high cohesiveness will be different with the behavior of groups that have low cohesiveness in the process of making decisions that form the goal. When the discussion is done, it will not close the possibility of conflict between members of each group to maintain their  opinion. From that, we can found the relationship of verbal communication and  group to making  decision.

Keywords: group, verbal communication, communication processes, conflict, and cohesiveness

ABSTRAK

Berbagai macam kelompok yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari seiring adanya tujuan-tujuan yang berbeda dari setiap manusia. Suatu kelompok selalu mempunyai tujuan akhir yang sama sesuai dengan kesepakatan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya. Ketika suatu kelompok merumuskan tujuan, maka terjadilah proses diskusi kelompok. Proses diskusi ini memerlukan adanya komunikasi verbal. Perilaku anggota-anggota  kelompok yang mempunyai kohesivitas tinggi akan berbeda dengan perilaku kelompok yang mempunyai kohesivitas rendah dalam proses membuat keputusan yang berupa tujuan. Ketika proses diskusi ini dilakukan maka tidak menutup kemungkinan adanya konflik antara anggota kelompok yang masing-masing mempertahankan pendapatnya. Dari sinilah muncul adanya hubungan antara komunikasi verbal terhadap pengambilan keputusan kelompok.

Kata kunci: kelompok, komunikasi verbal, proses komunikasi, konflik, dan kohesivitas

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk hidup yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, di mana kehidupan manusia selalu dipenuhi komunikasi dan interaksi pada orang yang ada disekitarnya. Berbagai macam komunikasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan, tetapi ketika manusia berada dalam sebuah kelompok maka terkadang manusia akan menghadapi konflik dalam pengambilan keputusan. Komunikasi yang efektif dalam kelompok adalah komunikasi verbal. Menurut Gamble dan Gamble (1984) dalam bukunya yang berjudul Communication work mengatakan bahwa sebuah konflik pasti akan terjadi pada sebuah kelompok. Konflik dapat terjadi pada sebuah kelompok yang yang masih bergerak dalam suatu bidang tertentu, di mana kekuatan beberapa orang dalam yang melakukan penentangan dan kekuatan yang ada di luar kelompok dapat menimbulkan konflik.

Komunikasi verbal digunakan sebagai isi pesan yang akan dilontarkan pada seluruh anggota kelompoknya agar terjadi sebuah tanggapan dari anggota kelompok lainnya. Proses pengambilan keputusan ini tidak selalu berakhir pada sebuah keputusan yang tepat, tetapi juga memungkinkan tercipta sebuah keputusan yang berakhir fatal atau lemah.

Banyak hal yang menyebabkan terbentuknya kualitas keputusan yang diharapkan oleh banyak pihak. Adanya komunikasi yang simultan dan variasi usulan yang diberikan oleh anggota yang berbeda mampu memberikan sumbangan pertimbangan keputusan yang akan diambil dalam menyelesaikan konflik yang ada dalam sebuah kelompok.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah penerapan komunikasi verbal oleh anggota kelompok ketika proses pengambilan keputusan?
  2. Bagaimanakah komunikasi verbal dapat menciptakan sebuah kesepakatan?

Tujuan

  1. Menggambarkan penerapan komunikasi verbal oleh anggota kelompok ketika proses pengambilan keputusan.
  2. Mengetahui proses komunikasi verbal sehingga dapat menciptakan sebuah kesepakatan.

Kegunaan

Makalah ini ditulis untuk memberi gambaran pada pembaca betapa pentingnya penggunaan komunikasi verbal dalam penyelesaian suatu konflik dalam diskusi.

Bab I

Komunikasi dan Konflik

2.1 Komunikasi

“Akar kata komunikasi adalah communicatio, dari kata dasar communis, yang berarti kesamaan dalam suatu hal.” (Lubis 2010 : 5). Kata komunikasi ini mempunyai beragam arti menurut pandangan beberapa ahli yang berbeda.

“ Black dan Bryant (1992) mendefinisikan komunikasi sebagai berikut: proses di mana orang-orang berbagi makna; proses di mana orang (komunikator) mengirim rangsangan untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan); terjadi ketika informasi melintas dari satu tempat ke tempat lain; pengalihan pesan sehingga saling mempengaruhi; dan terjadi bila si A menyampaikan pesan kepada si B melalui saluran C kepada si D dengan akibat E” (Lubis 2010 : 6).

“Komunikasi (communication) adalah proses sosial di mana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka” ( West dan Turner 2007: 5). Komunikasi merupakan proses sosial di mana komunikasi selalu melibatkan minimal dua orang yang saling berinteraksi, dalam interaksi ini terjadi beberapa proses secara simultan untuk memperoleh suatu makna yang berarti. Proses komunikasi ini sendiri tidak diketahui kapan dimulai dan kapan diakhiri. Kejadian waktu lampau mungkin saja juga akan mempngaruhi proses komunikasi yang terjadi sekarang. Makna ini dibentuk karena adanya kesepakatan antara sekelompok orang.

“Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara seseorang dengan orang lain dalam kelompok, berhadapan satu sama lain sehingga memungkinkan terdapatnya kesempatan bagi setiap orang dalam kelompok untuk memberikan pendapat secara verbal” (Amirudi Saleh 2010: 236). Menurut “Tubbs dan Moss (1983) serta Devito (1996) membedakan ke dalam tiga tipologi, yakni: linier, interaksional, dan transaksional”( Mugniesyah 2010: 56).

Pengertian komunikasi dan tipologi yang telah dijelaskan di atas akan berguna untuk mengamati proses komunikasi kelompok dalam pengambilan suatu keputusan. Kelompok yang membuat suatu forum baik itu formal atau tidak formal, maka akan memperlihatkan adanya model transaksional atau bahkan hanya model linear. Hal ini hanya terjadi karena tipe beberapa anggota kelompok mempunyai perbedaan.

2.2 Konflik

Konflik terjadi karena adanya ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih. Menurut Robbin (1996) keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.[4]

Konflik dalam suatu forum dapat mempunyai dampak negative dan juga mempunyai dampak positif. Diantara dampak-dampak tersebut dapat dilihat pada pernyataan sebagai berikut:

“We see that in any situation problems can develop if we fail to deal with conflict appropriately to be derived from handling conflict effectively. Alan Filley, in the book Interpersonal Conflict Resolution, identifies four major values arising from conflict. First, many conflict situations can function to eliminate the probability of more serious disharmony in future. Second, conflict can increase our innovativenees by helping us acquire new ways of looking at things, new ways of thinking, and new behaviors. Third, conflict can develop our sense and trust. Fourth, it can provide us with an invaluable opportunity to measure the strength or viability of our relationship[5]. Conflict, after at all, result of diversity” (Gamble dan Gamble 1984 : 261).

Adanya konflik dalam forum akan mempunyai dampak yang positif jika anggota dalam kelompok-kelompok tersebut yang akhirnya akan membentuk sebuah organisasi yang utuh mempunyai peningkatan dalam memikirkan solusi-solusi yang original sesuai ide mereka. Konflik seperti inilah yang diharapkan menciptakan komunikasi budaya rendah[6]. Anggota-anggota dalam forum akan menyampaikan ide dengan pesan verbal dan dalam menyampaikan ide tersebut maka pihak yang lain harus mendengarkan dengan baik. Lazimnya manusia menghabiskan 42% untuk mendengarkan dan sisanya adalah untuk menyampaikan komunikasi secara verbal atau non verbal. (gamble dan gamble 1984: 76) . Pengertian ini akan lebih mudah jika dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1.1 Prosentase Jenis-Jenis Komunikasi yang Dilakukan Manusia

No. Jenis-Jenis Komunikasi Prosentase (%)
1. Mendengarkan 42
2. Berbicara 32
3. Membaca 15
4. Menulis 11

Sumber: Buku communication work oleh Teri Kwal Gamble dan Michael Gamble

Keterangan: Tabel ini dimonifikasi dari pernyataan teks.

Bab II

Hubungan Komunikasi Verbal terhadap Pengambilan Keputusan Kelompok

Suatu kelompok akan melakukan komunikasi di manapun dan kapanpun mereka berada. Komunikasi kelompok sangat memungkinkan terjadi ketika kelompok tersebut mengadakan suatu diskusi untuk membuat keputusan. Proses pengambilan keputusan dalam kelompok diperlukan pemikiran-pemikiran yang kritis dari masing-masing anggota sehingga memungkinkan adanya model komunikasi transaksional menggunakan komunikasi verbal. Komunikasi verbal ini yang akan disampaikan secara simultan kepada anggota kelompok lainnya. Dalam komunikasi seperti ini maka setiap anggota kelompok akan mengutarakan pendapat dan pemikirannya masing-masing untuk tujuan tertentu. Pengomunikasian seperti ini menjadi berlarut ketika anggota dalam kelompok melakukan pertahanan untuk mempertahankan pendapatnya. Jika hal itu terjadi maka kemungkinan besar konflik antar anggota pun akan terjadi. Bahkan tidak jarang ditemukan adanya proses komunikasi yang berpotensi menimbulkan konflik karena adanya perbedaan pemahaman dan pemaknaan isi pesan. Menurut Berlo dalam Lubis (2010) dikatakan bahwa komunikasi selalu melibatkan sumber, penerima, pesan, saluran, akibat dan feedback. Komunikasi juga mempunyai hambatan, hambatan ini karena adanya proses komunikasi yang kurang sempurna yang dilakukan oleh pendengar (orang yang menerima pesan secara verbal). Menurut Purnaningsih (2010) hambatan tersebut antara lain sibuk dengan diri sendiri, sibuk dengan masalah eksternal, aspek pesan yang diperhatikan, asimilasi, faktor kawan atau lawan,dan mendengar yang diharapkan. Hal-hal yang telah disebutkan tersebut akan memungkinkan kurang terserapnya pesan secara maksimal. Pemahaman pada pesan itu sendiri akan mempengaruhi pandangan dan persepsi seseorang terhadap tujuan isi dari pesan itu. Jika penerima pesan dan pemberi pesan mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap isi pesan ini, maka dari sinilah kemudian terjadi konflik pemikiran antara dua orang atau lebih yang berada pada forum tersebut.

Kejadian yang tergambar pada hal di atas tidak selalu terjadi, di mana tiap anggota kelompok akan saling menyangkal dan mempunyai pendapat yang berbeda. Kejadian yang berbeda akan terlihat dalam kelompok yang kohesivitasnya tinggi, hal ini sesuai dengan gambaran yang dipaparkan oleh teori groupthink.

“Groupthink (pemikiran kelompok) didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada.” ( West dan Turner 2007 : 274)

Menurut teori tersebut maka memungkinkan adanya keputusan yang lemah karena kurangnya keberagaman pandangan dari anggota kelompok lainnya. Komunikasi verbal sangat  menentukan pada sebuah keputusan yang akan diterapkan dalam melaksanakan tujuan kelompok tersebut. Jika beberapa anggota yang mempunyai pemikiran bahwa keharmonisan kelompok lebih penting dari pada mempermasalahkan pendapat, maka pemikiran seseorang tidak mungkin dapat diketahui jika orang yang mempunyai pemikiran itu tidak menyampaikannya pada anggota lain secara verbal. Dari proses itulah yang akhirnya menjadi awal terbentuk kesepakatan yang lemah.

Bab III

Kesimpulan

Komunikasi dalam kelompok sangat dipengaruhi oleh pesan verbal dan cara mendengarkan masing-masing anggota kelompok atas pesan tersebut. Forum dalam kelompok akan mencapai kesepakatan tinggi atas keputusan, jika adanya beragam ide yang disampaikan secara verbal. Konflik ide ini sendiri akan berdampak baik pada proses diskusi forum tersebut. Proses pengambilan keputusan ini tergantung juga pada kohesivitas anggota kelompok yang bisa menjadikan suatu keputusan akan berbeda dengan apa yang diharapkan.


[4] Wikipedia. Tanpa tahun. Konflik –wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.[27 Desember 2010]. Diunduh dari :id.wikipedia.org/wiki/Konflik

[5] Alan C.Filley. 1975. Interpersonal conflict resolution. Scott: Glenview

[6] Komunikasi budaya rendah adalah cara-cara komunikasi yang lebih langsung, verbal, jelas.

Daftar Pustaka

Astuti RP.2006. Hubungan karakteristik partisipan dan konflik eksternal organisasi dengan iklim komunikasi organisasi: (kasus organisasi keagamaan jemaat ahmadiyah Indonesia (JAI). Desa Ciherang, Kecamatan Dermaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Bogor: Institut Pertanian Bogor

Gamble TK, Gamble M.1984. Communication work. 1rd edition. New York: Random House. 433 hal.

Imron LM, Kristiani.2007. Hubungan antara keterbukaan komunikasi, pemecahan konflik, kinerja kooordinator KIA dengan kepuasan kerja bidan di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. [Internet]. Yogyakarta: KMPK Universitas Gadjah Mada. [27 Desember 2010]. Diunduh dari: http://www.pdf-finder.com/HUBUNGAN-ANTARA-KETERBUKAAN-KOMUNIKASI,-PEMECAHAN-KONFLIK,-KINERJA-….html

Iskandarini. 2002. Analisis pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. [Internet]. Tanpa tempat terbit: Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Sumatera Utara .[ 27 Desember 2010]. Diunduh dari:http://www.pdf-finder.com/ANALISIS-PEMECAHAN-MASALAH-DAN-PENGAMBILAN-KEPUTUSAN.html

Lubis DP, Mugniesyah SS, Purnaningsih N, Riyanto S, Kusumastuti YI… Fatchiya A. 2010. Dasar-dasar komunikasi. Bogor: Sains KPM IPB Press.392 hal

Rusman IK. 2009. Hubungan antara motivasi prestasi dan komunikasi dalam organisasi dengan prestasi kerja pegawai kantor pelayanan dan pengawasan bead an cukai tipe A3. [Internet]. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.[ 23 Desember 2010].Diunduh dari: http://www.pdf-finder.com/HUBUNGAN-ANTARA-MOTIVASI-BERPRESTASI-DAN-KOMUNIKASI-DALAM-….html

Sudianto. Tanpa tahun. Komunikasi organisasi sebagai mobilitas sosial. [internet]. Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. [Dikutip 23 Desember 2010]. Diunduh dari http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf

West R, Turner LH. 2008. Pengantar teori komunikasi: analisis dan aplikasi. Penerjemah Maer MND. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika. Judul asli: Introducing communication theory: analysis and application. 3rd edition. 380 hal.

Wikipedia. Tanpa tahun. Konflik –wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.[27 Desember 2010]. Diunduh dari :id.wikipedia.org/wiki/Konflik

oleh: rizka amalia

Dengan  sekuat tenaga aku mencekeram kain itu, sayup-sayup aku mendengar suara suami yang berusaha menguatkanku. Oek…..oekkkk…terdengar suara yang telah dinanti banyak orang memecah suasana yang menegangkan, tetapi suara itu perlahan menghilang dari pendengaranku dan perlahan mataku tak bisa melihat jelas hingga akhirnya semuanya menjadi gelap. Mulai saat itulah aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelahnya.

@@@

Uma ….uma…sayang….tidak apa-apakan? Sayang kenapa belum membuka mata?”. Suara lembut itu terdengar sayu dan seiring kesadaranku suara itu semakin jelas. Aku merasakan nyeri dan panas di bagian bawah perutku, tapi sebelum aku merasakannya semakin mendalam di sisi lain terasa genggaman erat pada tanganku. Genggaman itu terasa hangat dan semakin  hangat sampai akhirnya kehangatannya mengantarkanku untuk membuka mataku. Beberapa berkas cahaya masuk melewati pupil dan berakhir pada retina lalu membentuk bayangan orang yang akhirnya bisa terlihat jelas. Bayangan sesosok lelaki yang bertubuh kekar dengan jenggot yang agak tebal, mata berkantung serta raut wajahnya yang terlihat letih. Ketika aku membuka mata secara sempurna sosok lelaki itu langsung meyambut senyuman dan kemudian dihempaskan tubuhnya ke tubuhku. Dia memelukku erat dengan menahan tangis atau bahkan sudah meneteskan air mata yang sembunyi-sembunyi ia seka.“Aba…”aku berbicara pelan, tenagaku belum sepenuhnya pulih dan aku mengatakan kata itu beberapa kali, tapi dia tetap memelukku erat. Aku pun larut dalam pelukannya, sejenak hembusan nafas panjang terasa hangat memberlai leherku. “Uma…Uma sayang terima kasih, Alhamdulillah anak kita laki-laki. Terima kasih sampean telah berjuang”. Tidak terasa air mataku leleh membasahi pipiku, aku pun memeluk suamiku erat dengan sangat erat, aku merasa menjadi istri yang sempurna baginya, aku telah melahirkan anaknya yang akan melanjutkan garis keturunannya dan yang akan memperjuangkan agama Allah. Aku sangat bahagia,”Alhamdulillah”.

@@@

Tok..tok..tok…krietttt, Assalamu’alaikum. Terdengar begitu begitu nyata sehingga seketika kami saling melepaskan pelukan kami. Air mata di pipiku segera aku usap sedangkan suamiku bergegas berjalan ke arah pintu. “Eh… Wa’alaikumsalam…Maz lutfi, Mbak Nabila…monggo silahkan masuk”. Terlihat Maz Ali dan Maz Lutfi saling bersalaman dan cipika cipiki, sedangkan Mbak Nabila hanya menganggukkan kepala seraya memberi senyuman manis menghiasi wajah cantiknya. Mbak Nabila melangkahkan kaki mendekatiku. “Maaf Dek, kita baru menengok… di pesantern kebetulan ada imtihan. Gimana ganteng apa cantik ne?” Alhamdulillah Ganteng Mbak, bisa jadi teman main Gus Sauqi”, sahutku bahagia. Mbak Nabila dan Mas Lutfi mendekati box tempat bayi sedang menikati mimpi indahnya. “Subhanallah, dek…. Kog ada miripnya ya sama Amahnya”, kata Mas Lutfi.” Mirip apanya Maz?”, tanyaku penasaran. “Mirip kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung, gak yow ngoten toh mi?”, nadanya menggoda serta melempar pandangan ke Mbak Nabila. “Ya Allah mas…kalau putihnya ya… mirip aku toh, mancungnya mirip Mas Ali, ya kan Masku?”, nadaku serius. “kamu itu lo ya…kog gak berubah tetep saja kayak anak kecil, la wong bercanda aja digawe serius”, Mas Lutfi menjawab dengan sedikit senyuman mengejek. “hmmmm….mas…mas Panjenengan sampun gadah santri banyak kog ya tetep remen bedho aku tah?hmmm empun tah mas…isin kan pireng Mas Ali.  Sejenak tawa dan canda menghangatkan ruangan. Selang beberapa menit mas Lutfi dan Mbak Nabila pamit untuk berkunjung ke rumah keluarga lainnya yang ada di Bogor.

@@@

Sepi menghujam di ruangan ini hanya aku, Mas Ali, dan bayi mungilku yang masih terlelap menikmati mimpi-mimpinya. “ Sayang… kemarin ketika aku mengadzani bayi kita, dia terlihat tenang dan sepertinya dia sangat menghayati arti adzan itu”, kata Mas Ali meredam suasana sepi.” Iya tah Mas?,hmmm seperti abanya ya…dia pendiam”, Jawabku sambil menatap mata Mas Ali. “hmmmm…aku rasa dia seperti umanya, yang selalu tertarik dengan hal baru, makanya dia diam untik menyimaknya dengan seksama”, jawabnya sambil tersenyum dan berjalan mendekati box. Mas Ali mengendong bayi mungil kami dan berjalan mendekatiku dengan langkah halus untuk menjaga bayi mungil kami  agar tetap terlelap dalam mimpinya. “Lihat sayang… lebih mirip sampean ya?”. “hmmm Iya Ba, tapi alisnya mirip Aba kog”, jawabku riang dan penuh kemanjaan. Mas Ali hanya tersenyum mengiyakan, sesekali dia mencium pipi lembut bayi kami. “Ma… bagaimana dengan nama Umar?”, Mas Ali bertanya sambil mengembalikan bayi kami pada boxnya, kemudian Mas Ali mendekat kepadaku kemudian memegang pipiku.”Bagaimana Sayang?”, tanyanya kembali dengan nada yang lembut. “Loch kog seperti nama mbah buyutnya Ba?”, tanyaku agak heran. “ Iya, Sayang… semoga saja nanti ketika dia dewasa, dia akan menjadi hafidz dan pejuang agama Allah”, jawabnya lembut dan penuh harapan. “Aba….boleh aku memberi tambahan?”, aku memandang Mas Ali dengan ketenangan hati. “Iya, apa sayang?”. “bagaimana dengan nama Umar Al Aliyuna?”. Apa artinya Sayang?, tanya Mas Ali. Arti dari Al Aliyuna adalah Ali Kita, aku berharap selain dia akan seperti mbah buyutnya, aku berharap dia akan sperti Aliku yang tetap tenang, sabar, sederhana dan penuh cinta padaku. Bagaimana?”, tanyaku dengan memandangi wajah letih mas Ali. “iya, nama yang bagus Sayang…”. Malam yang penuh kebahagiaan itu mengantarkan kami untuk terlelap. Mas Ali yang terlihat letih, dia tertidur pulas, sedangkan aku juga tertidur dalam genggaman tangan hangat mas Ali.

@@@

Tiut…tiut…tiut..cierrrr…ekk…tolong… Deringan bel tanda bahaya menjerit-jerit, tangisan bayi kami membangunkan kami perlahan, langkah kaki orang-orang yang lalu lalang serta jeritan-jeritan orang-orang menjadikan kami semakin sadar. “Astagfirullah…”, Mas Ali segera bangun dan mendekati box Umar yang bagian sampingnya telah terlahap api. Aku berusaha turun dari ranjang, terasa sakit dan nyeri bagian perutku serta bagian bawah perutku. Aku meneteskan air ,mata.. hampir lima menit Umar belum bisa terambil dari Box, dan aku pun menangisinya. Suasana kamar menjadi sangat panas, aku melihat mas Ali berjuang keras melawan api yang menjalar hampir ke seluruh box Umar. Terdengar Umar menjerit-jerit dan aku semakin tidak bisa menahan tangis. Selang beberapa menit kemudian akhirnya Umar terambil dari boxnya. Kami bergegas meninggalkan ruangan, mas Ali menggendong Umar yang sebagian tubuhnya telah terbakar, tangisan Umar yang mulanya keras sekarang semakin melemah. Aku berjalan menahan sakit dan perih di bagian bawah. Lift tidak dapat digunakan, akhirnya kami melewati tangga darurat untuk turun. Banyak orang yang berdesakan ketika melewati anak tangga. Aku yang masih tertatih-tatih ketika menuruni anak tangga, sedangkan mas Ali juga kualahan dengan mengamankan Umar dari lalu lalang orang-orang. Pada anak tangga lantai dua kami terjatuh kemudian Umar terpental, Mas Ali segera menggendongnya kembali lalu menghampiriku untuk memapahku. Aku melihat Umar, dia tak lagi menangis. Puing-puing dari lantai atas mulai berjatuhan bagaikan gerimis yang menyerbu bumi yang kokoh, semburan air pemadam kebakaran menjadikan lantai licin seperti tubuh belut. Akhirnya kami sampai di luar gedung, aku mendongak ke atas yang terlihat banyak kepala-kepala manusia yang mengerumuni kami, disela-selanya aku melihat terang rembulan yang hampir sempurna. Aku tak bisa berkata lagi, dan bulan itu mengajakku terbang dan akhirnya cahayanya mendekapku erat, dalam dekapannya aku pun tak lagi bisa mengingat apa yang terjadi.

@@@

Badanku terasa sakit, bagian perutku nyeri, dan pipiku perih. Semakin aku merasakan sakit lalu akhirnya aku membuka mata. Aku berusaha mengingat mimpi apa yang telah aku impikan, mimpi itu sangat buruk kemudian aku melempar impian tadi bersama detik waktu yang terdengar mengejek. Aku berusaha bangun, tapi badanku terasa sakit dan lemah. “Errgghh…, Mas Ali, di mana?” tanyaku sambil menahan sakit. “Mas kamu di kamar sebelah Nduk…wes tah istirahatno disik”. Mas lutfi berusaha menenangkanku. “Mas, kenapa di sini, katanya mau ke rumah Bu Lek Siti? Kenapa Mas Ali berada di kamar sebelah?siapa yang sakit?”pertanyaanku menyerbu. “Nduk…sing sabar ya,…Ali luka bakarnya cukup serius”. Aku tersentak dan  akhirnya aku sadar bahwa tadi bukan mimpi tapi kejadian nyata. “Mas…di mana Umar?”. Mas Lutfi pun terdiam sejenak, air matanya tertahan sehingga tidak sampai menetes. “Innalillahi wa inna ilaiyhi rooji’un, sabar Nduk…sabar…bayimu telah kembali ke sisi Gusti Allah”. Seketika tangisku meledak, air mataku mengalir bagaikan air terjun di musim hujan, lafadz tarji’ku menjadi terbata-bata karena isak tangisku dan nafasku yang tidak dapat diatur.

@@@

Satu bulan telah berlalu aku, Mas Ali dan beberapa Umar Aliyuna yang lain telah berkumpul di panti asuhan untuk menyantap beberapa roti yang telah kami beli di perjalan tadi. Panti asuhan ini dikelola oleh teman kami yang bernama Shoumi, dan di sinilah kami berbagi kasih sayang dan menjadikan anak-anak panti ini sebagai Umar Aliyuna yang siap untuk berjuang bagi agama dan negaranya. Keceriaan mereka menggambarkan keceriaan Umar yang dulu, sangat indah seindah kebersamaan dalam ikatan ukhuwah yang tak tak terbatas adanya hubungan darah. Ada lima belas anak panti yang umurnya seusia anak SD tapi ada satu yang masih usia PAUD, kami pun tidak membeda-bedakan dalam mengasuhnya. Aku cenderung menggunakan gaya pengasuhan yang otoritatif di mana ada aturan dan kasih sayang seimbang. Mas Ali dan Shoumiy pun mengikuti gaya pengasuhanku. Masing-masing dari enam belas anak ini, sangat dekat denganku dan biasanya mereka memanggilku “Bunda”. Aku merasakan bagaimana mereka semua menyayangiku begitupun sebaliknya.

@@@

Sepuluh tahun sudah kami mengabdikan diri di panti, lima anak panti kami telah diadopsi oleh orang tua asuh. Sebelas anak lainnya masih berada di tengah-tengah kami, mereka hidup disiplin sesuai dengan jadwal kegiatan yang mereka pilih sendiri. Ada enam anak yang sedang muroja’ah bersama Shoumi dan ada tiga anak yang lain sedang berlatih bela diri bersama Mas Ali. Namikha dan Najwa bersamaku memasak ikan yang telah kami beli di Pasar.  Di Panti Al-Hidayah ini kami hidup seperti keluarga yang mencita-citakan tegaknya agama di dunia fana ini.

@@@

Kegiatan rutin yang kami lakukan sehari-hari telah usai, aku dan Mas Ali merebahkan tubuh kami di temapt tidur yang semakin-hari semakin dingin tanpa kehadiran bayi di tengah-tengah kami. “Uma…sayang”. Mas Ali memanggilku mesra. “ Iya Aba… ada apa?”, jawabku pelan. “Aba, sayang Uma…jangan menyerah ya…”. Kemudian Mas Ali mendekat dan terdengar lirih di telingaku doa “Barokallahu likulli wahidin minna fi shaahabihi”. Kemudian malam itu begitu indah seindah langit malam yang bertaburan bintang, bunga-bunga di taman seolah bercahaya dan harumnya semerbak sampai ke surga.

@@@

Beberapa bulan kemudian saat aku memasak dengan Namikha, isi perutku keluar, roti yang belum tercerna sempurna yang telah tercampur dengan amilase dari mulut pun tercecer di lantai dapur. Wajahku kala itu pucat pasi, Mas Ali pun membawaku ke rumah sakit terdekat dan ternyata, “Allamdulillah Uma, sampean positif hamil”, kata Mas Ali dengan riang. Mas Ali segera menelphon Shoumi, lalu di panti anak-anak mengadakan syukuran kecil-kecilan. Ahmad, Khozin, Iqbal dan Faqih melantunkan ayat-ayat Al Qur’an di ruangan secara bergantian, sedangkan Fikri dan Najma memberi kabar bahwa mereka berdua lolos tes beasiswa ke Syiria dan Kairo yang diselenggarakan oleh Departemen Agama. “Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar”, Aku bersyukur atas segala nikmat, kesabaran, kekuatan yang telah Engkau berikan Ya Robb”. Air mata kebahagiaanku menetes ke bumi yang penuh dengan keberkahan.

link: http://ipb.ac.id